SERIAL PMI : Setelah IMD
Aura Annisa KDI masih membekas di ingatan. Aroma, tutur kata, dan gerak-geriknya sempat mengalihkan fokusku saat menyantap hidangan makan malam di Wisma Duta. Jamuan itu digelar Pak Dubes bersama para sponsor pendukung IMD. Tempat dudukku hampir berhadapan langsung dengannya di meja bundar. Tapi entah kenapa, aku lebih sering menunduk. Grogi. Jarang-jarang bertemu artis, hehe.
Sesekali, aku mencuri pandang. Hanya untuk memastikan: betulkah wajahnya seanggun itu? Seputih itu? Secantik itu? Aku ingin tahu, apakah hasil karya Pak Tatang—poster dan video flyer Annisa—yang begitu iconic itu sesuai dengan kenyataan?
Sebenarnya, saat poster itu dibagikan di grup sekretariat, aku sempat memberi komentar. “Bening amat ya!” Itu bukan pujian. Lebih pada kritik. Kontras warna di poster itu berlebihan. Wajahnya jadi seperti boneka. Tapi komentarku diabaikan. Tidak ada yang menanggapi.
Malam itu, saya akhirnya tahu jawabannya. Poster itu ternyata tidak bisa sepenuhnya menggambarkan aslinya. Annisa jauh lebih memukau dibandingkan hasil edit Photoshop. Rasanya tidak perlu lagi sentuhan alat apa pun untuk mempercantik. Ini makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam. Di panggung utama, suara Muhammad Lalu Adit dan Arisa menggema. Mereka membacakan rangkaian acara IMD. Musik silih berganti. Sorak-sorai penonton tak henti-hentinya. Riuh. Meriah.
Tapi suasana di dalam Wisma Duta berbeda. Pak Jaya, sang Ketua, duduk dengan santai. Tepat di samping Annisa. Pilihan tempat yang cerdas. Strategis. Pak Dubes? Malah berdiri. Berbincang dengan kami yang ada di meja. Hangat. Tidak ada kesan formal. Pak Jaya memang piawai memilih tempat duduk yang strategis sekaligus pantas.
Di sekeliling meja, tokoh-tokoh penting hadir. Ada Abu Bakar, Country Manager Bank Mandiri di Arab Saudi. Trisno dari Bank BRI. Perwakilan Fawri dan PT Timur Raya. Juga Bang Boim. Mantan TKI yang kini sudah punya perusahaan sendiri di tanah air.
Kiprah Bank Nasional
Bangga? Pasti. Melihat bank-bank nasional seperti Mandiri, BRI, dan BNI merambah Arab Saudi, ada rasa hangat yang muncul di dada. Ini bukti bahwa Indonesia bisa hadir di luar negeri, terutama di pasar yang strategis seperti Timur Tengah. Tapi, jujur saja, saya belum tahu sejauh mana kiprah bank-bank plat merah kita ini di Arab Saudi.
Saya membayangkan, suatu hari nanti, bank-bank nasional kita bisa melangkah lebih jauh. Bermitra dengan pemerintah Arab Saudi atau swasta untuk membentuk joint venture, seperti SABB (Saudi British Bank), yang telah lama bekerja sama dengan Inggris. Atau seperti Saudi Fransi Bank, hasil kemitraan Arab Saudi dengan Prancis. Jika mereka bisa, mengapa Indonesia tidak? Mengapa tidak mencoba membentuk kemitraan seperti "Saudinesia Bank"?
Saat ini, layanan bank nasional kita di Arab Saudi masih terbatas. Pembukaan rekening, pengiriman uang, dan kebutuhan transaksi sederhana bagi WNI, terutama pekerja migran. Itu penting, tentu saja. Tapi pertanyaannya, apakah sudah ada akses ke pinjaman? Apakah ada pembiayaan untuk UKM yang bisa mendorong pekerja migran berwirausaha? Belum terdengar. Padahal, potensi itu besar sekali.
Bayangkan pekerja migran yang telah pulang ke Indonesia atau bahkan yang masih bekerja di Arab Saudi, diberi akses pembiayaan untuk membuka usaha. Itu bukan hanya memperkuat ekonomi keluarga mereka, tetapi juga membangun kontribusi besar untuk perekonomian Indonesia.
Bank-bank kita punya peluang besar untuk berinovasi. Bukan hanya sebagai penyedia layanan transaksi, tetapi juga sebagai mitra yang benar-benar membantu pekerja migran mewujudkan mimpi mereka. Mungkin ini saatnya kita mulai berpikir ke arah sana.
Dulu, saya dan teman-teman di HIMA-UT pernah mencoba menjajaki kolaborasi dengan BRI. Kami mengadakan seminar keuangan. Tujuannya sederhana: edukasi. Kami ingin mengajarkan pekerja migran tentang pengelolaan keuangan dan investasi, sekaligus memperkenalkan peluang yang bisa mereka manfaatkan, seperti akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Saat itu, ide kami cukup ambisius. Kami berharap seminar ini bisa menjadi langkah awal yang membuka jalan bagi lebih banyak pekerja migran untuk mendapatkan akses perbankan yang lebih luas. Bayangkan jika PMI tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga bisa memanfaatkan penghasilan mereka untuk memulai usaha, baik di negeri orang maupun saat kembali ke tanah air.
Sayangnya, inisiatif ini berhenti di tengah jalan. Entah karena kurangnya dukungan, keterbatasan waktu, atau mungkin kami belum cukup gigih. Namun, semangat untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan pekerja migran tetap menjadi sesuatu yang menurut saya harus terus diperjuangkan.
Seminar kecil itu mungkin hanya langkah awal. Tapi bagi saya, itu adalah pengingat bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari ide-ide kecil yang dijalankan dengan niat baik.
Relevansi dan Semangat IMD
Jamuan makan malam malam yang penuh kehangatan, meski suhu musim dingin menusuk hingga ke tulang. Acara berlangsung khidmat, meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang hadir. Pak Dubes, dalam sambutannya, tidak menyampaikan pesan panjang. Hanya ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya untuk semua pihak dan pemangku kepentingan yang mendukung suksesnya perayaan Hari Migran Internasional 2024.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan Hari Migran Internasional tetap menjadi ajang silaturahmi dan hiburan. Selain itu, momen ini selalu ditunggu-tunggu untuk mencicipi beragam kuliner khas Nusantara yang menggugah selera. Namun, tidak hanya soal rasa dan hiburan. Ada sisi edukasi dan kegiatan sosial yang memberikan manfaat langsung.
Tahun ini, diseminasi informasi menjadi salah satu agenda utama. Dua tema besar yang diangkat adalah: “Adakah Peluang untuk Resmi Kembali?” dan Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan. Tema pertama menjadi jawaban atas kegelisahan banyak PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang ingin kembali bekerja secara legal. Sementara itu, sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan mengedukasi mereka tentang pentingnya perlindungan jaminan sosial, yang kerap kali terabaikan.
Selain itu, ada program Capacity Building yang menarik perhatian. Pelatihan Content Creator diadakan untuk membekali para pekerja migran dengan keterampilan digital. Keterampilan ini diharapkan dapat membuka peluang baru di era serba digital.
Yang tak kalah menarik, program donor darah juga menjadi bagian dari perayaan tahun ini. Kegiatan ini diinisiasi oleh Bu Fitri, seorang perawat senior yang akrab menyebut dirinya sebagai senior citizen. Julukan ini diberikan bukan tanpa alasan—Bu Fitri sudah bermukim di Arab Saudi sejak awal tahun 1990-an dan menjadi saksi perubahan besar di dunia pekerja migran. Dengan jumlah pengunjung sekitar 150 orang, program donor darah ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial di tengah kemeriahan acara.
IMD tahun ini bukan sekadar selebrasi. Ini adalah ajang untuk memberikan manfaat nyata: dari silaturahmi dan hiburan hingga edukasi dan aksi sosial. Sebuah perayaan yang mengingatkan kita bahwa menjadi migran adalah sebuah perjuangan yang layak dirayakan, dihormati, dan terus diperjuangkan.
Dari berbagai materi yang disajikan di IMD, setiap PMI (Pekerja Migran Indonesia) tentu memiliki program favorit dan tujuan masing-masing. Ada yang tertarik dengan Capacity Building berupa pelatihan Content Creator. Ada yang menyukai Diseminasi Informasi karena relevan dengan kebutuhan mereka. Sebagian datang untuk menikmati bazar yang menyajikan aneka kuliner khas Nusantara. Ada juga yang antusias dengan program donor darah sebagai wujud kepedulian sosial.
Saya sendiri memiliki program favorit di IMD kali ini, yaitu Diseminasi Informasi dengan dua tema besar: “Adakah Peluang Resmi Kembali?” dan “Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan”. Menurut saya, dua tema ini adalah ruh dan semangat utama mengapa IMD harus terus dirayakan dan diperingati.
Tema-tema ini langsung menyentuh kepentingan mendasar pekerja migran. Tema “Adakah Peluang Resmi Kembali?” menjawab pertanyaan besar banyak PMI yang ingin kembali bekerja secara legal, sebuah isu yang sering menjadi kegelisahan mereka. Sementara itu, Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan menjadi sangat penting untuk memberikan pemahaman tentang jaminan perlindungan sosial—sebuah kebutuhan yang sering terabaikan di kalangan pekerja migran.
Bagi saya, IMD bukan hanya perayaan. Ini adalah momentum refleksi dan penguatan semangat bagi pekerja migran untuk terus memperjuangkan hak-hak mereka, baik di negeri orang maupun saat kembali ke tanah air. Semangat ini harus terus dijaga, demi masa depan yang lebih baik bagi mereka dan keluarga yang mereka tinggalkan.
Berlanjut ………